Triasmitra akan Gelar RUPST 18 Juni 2026
Jakarta, ID – PT Ketrosden Triasmitra Tbk (Triasmitra), emiten kontraktor jaringan infrastruktur telekomunikasi di Tanah Air dengan kode saham KETR, akan menggelar rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) pada 18 Juni 2026.
Direktur Keuangan Triasmitra Vidcy Octory menyampaikan, perseroan menyampaikan rencana penyelenggaraan rapat umum pemegang saham tahunan untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025.
“RUPST (akan digelar) Kamis, 18 Juni 2026, waktu 10.00 WIB. Lokasi penyelenggaraan Gedung Meta Epsi, Lt 2 Jl, DI Panjaitan Kav 2, Jatinegara,” ungkap Vidcy, dikutip InfoDigital.co.id, Selasa (12/5/2026).
Sementara itu, para pemegang saham yang berhak mengikuti RUPST tersebut harus tercatat dalam daftar pemegang saham paling lambat tanggal 25 Mei 2026.
Vidcy Octory pun telah melaporkan rencana RUPST Triasmitra tersebut kepada Otoritas Jasa Keuangan dan ditembuskan kepada Bursa Efek Indonesia sebagai bagian keterbukaan informasi.
Kinerja 2025
Sementara itu, Triasmitra baru saja mengumumkan kinerja keuangan tahun 2025 dengan capaian pertumbuhan laba bersih 63% dibandingkan tahun sebelumnya (year on year/YoY).
Dalam laporannya, Triasmitra meraih laba bersih tahun 2025 mencapai Rp138,48 miliar, naik dari Rp84,89 miliar pada 2024. Peningkatan laba ditopang oleh peningkatan pendapatan dan efisiensi beban usaha.
Dari total laba bersih Rp138,48 miliar, Triasmitra pun membukukan laba per saham (earning per share/EPS) dasar yang juga ikut terdongkrak dari Rp29,88 menjadi Rp48,74 per lembar.
Di sisi lain, pendapatan Triasmitra dicatat melonjak 34,8% menjadi Rp750,22 miliar tahun 2025 dari setahun sebelumnya masih Rp556,39 miliar.
Walau beban pokok pendapatan naik menjadi Rp372,79 miliar, Triasmitra tetap membukukan laba kotor tumbuh 33,8% menjadi Rp377,42 miliar dari tahun sebelumnya Rp282,20 miliar.
Dari sisi operasional, laba usaha pun tercatat senilai Rp263,14 miliar, naik 39,3% dari Rp188,92 miliar pada 2024. Ini ditopang beban usaha yang hanya meningkat moderat menjadi Rp114,29 miliar, menunjukkan efisiensi biaya.
Selanjutnya, beban keuangan turun tipis 0,6% menjadi Rp64,84 miliar dari sebelumnya Rp65,22 miliar, menandakan pengelolaan utang yang lebih terkendali. (abm)




