Agora dan Carousell Optimistis Bisnis Video Commerce RI Terus Tumbuh
Agora dan Carousell ungkap potensi video commerce Indonesia. (Dok Agora-Carousell)--
Jakarta, ID – Perusahaan platform digital Agora dan Carousell optimistis, masih besarnya potensi pertumbuhan bisnis video commerce di Indonesia. Hal ini akan terjadi seiring dengan tren meningkatnya transaksi melalui video sebesar 90% secara tahunan.
Video commerce merupakan strategi bisnis pemasaran dan penjualan digital yang menggabungkan tayangan konten video dengan penjualan produk/jasa secara elektronik (e-commerce) secara interaktif.
CEO Agora Tony Zhao menyampaikan, siaran video secara langsung (livestreaming) menjadi salah satu kanal yang tumbuh paling pesat diminati para pelanggan di Indonesia.
Pelaku usaha kecil kini pun dapat menjangkau pembeli dari berbagai daerah, serta ekosistem livestreaming menciptakan peluang kerja baru bagi host, kreator, hingga tim produksi.
"Peluang Indonesia bukan hanya karena masyarakatnya banyak menonton konten live, tetapi karena mereka aktif berpartisipasi," ujar Tony Zhao, dalam pernyataannya, dikutip InfoDigital, Jumat (6/11/2026).
BACA JUGA:230 Juta Pengguna Internet Penopang Ekonomi Digital RI
Pernyataan Agora dan Carousell bahwa Indonesia masih menjadi pasar video commerce terbesar dan dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara tidaklah berlebihan.
Sebab, laporan 'e-Conomy SEA 2025' dari Google, Temasek, dan Bain & Company menyebutkan, transaksi video commerce di Indonesia naik 90 persen secara tahunan menjadi 2,6 miliar transaksi, dengan jumlah penjual aktif/toko online naik 75 persen dan melayani sekitar 800.000 user.
"Masyarakat Indonesia sudah terbiasa berbincang dan menawar langsung dengan penjual, dan video live membawa kebiasaan tersebut ke ranah digital," tuturnya.
Masalah Aplikasi
Namun, Agora menilai, masih banyak aplikasi yang belum siap memenuhi ekspektasi yang memadai guna menjadi sarana untuk video commerce di Indonesia.
“Banyak aplikasi masih menjadikan video live sebagai siaran satu arah, di mana host berbicara, sementara penonton menyaksikannya dengan jeda beberapa detik," kata Tony Zhao.
BACA JUGA:e-Commerce Penyokong Utama Ekonomi Digital RI Nyaris US$100 miliar
Ia menilai pendekatan seperti itu mungkin cukup ketika livestreaming hanya digunakan untuk hiburan. Tetapi, tidak cukup dan kurang memadai ketika orang sedang berbelanja.