Indonesia Butuh Investasi Data Center US$17,9 Miliar hingga 2030
Head of Research & Consulting, Data Centre Group APAC, Cushman & Wakefield Pritesh Swamy. (Dok Cushman & Wakefield-LinkedIn)--
Jakarta, ID – Indonesia membutuhkan dana belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar US$17,9 miliar (Rp323,8 triliunan) sepanjang 2026–2030 untuk ekspansi dan memenuhi kebutuhan kapasitas pusat data (data center) yang terus meningkat.
Dengan kebutuhan investasi tersebut, Indonesia pun menjadi salah satu pasar dengan kebutuhan pendanaan dan pertumbuhan data center terbesar/tercepat di Asia-Pasifik, menurut konsultan properti Cushman & Wakefield.
Laporan ‘APAC Data Centre Investment Landscape 2026’ dari Cushman & Wakefield pun menyebut, Indonesia menjadi salah satu pasar bisnis pusat data dengan perkembangan tercepat di kawasan Asia-Pasifik. Indonesia terus memperkuat posisinya sebagai salah satu pasar terbaik.
Dengan hampir 2 gigawatt (GW) kapasitas yang berada dalam pipeline pengembangan hingga 2030, Indonesia terus mencatat penambahan kapasitas untuk mendukung pertumbuhan permintaan data center.
“Hal ini menjadikan Indonesia salah satu pasar dengan prospek jangka panjang yang menarik di Asia Pasifik,” ujar Head of Research & Consulting, Data Centre Group APAC, Cushman & Wakefield Pritesh Swamy, dikutip InfoDigital, Kamis (4/11/2026).
BACA JUGA:Telkom Ekspansi Data Center hingga 1 GW, Cikarang Jadi Fokus
Laporan dari Cushman & Wakefield pun memaparkan bahwa aktivitas prapenyewaan sebelum diibangun (pre-leasing) pusat data di Tanah Air meningkat hampir lima kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Hal itu terjadi juga seiring dengan makin banyaknya pemain/perusahaan data center global yang ekspansi dan memperkuat kehadirannya di Indonesia, antara lain Digital Realty, Equinix, dan Keppel Data Centres.
Tren sewa sebelum dibangun pun justru meningkat di Indonesia. Penyedia layanan komputasi awan (cloud), perusahaan AI, dan korporasi domestik, pun makin aktif mengamankan kapasitas lebih awal, bahkan sebelum fasilitas mulai dibangun.
Perkembangan tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu dari lima pasar terbesar di Asia-Pasifik berdasarkan kapasitas data center yang telah diamankan melalui pre-leasing.
Hal itu mencerminkan kuatnya permintaan dan kepercayaan dari berbagai segmen pengguna, mulai dari penyedia cloud dan perusahaan AI hingga korporasi yang membutuhkan kapasitas digital dalam skala besar.
Menurut Pritesh, Indonesia kini berada pada posisi strategis untuk memanfaatkan pertumbuhan data centre, didukung oleh populasi digital yang besar, kebijakan kedaulatan data, dan arus masuk modal internasional yang semakin kuat.
Permintaan Asia-Pasifik
Di kawasan Asia-Pasifik, lanjut Pritesh, permintaan terhadap kapasitas data center terus melampaui pasokan. Dalam satu tahun terakhir, Asia-Pasifik menambah lebih dari 2.200 megawatt (MW) kapasitas operasional baru.