Indonesia Butuh Investasi Data Center US$17,9 Miliar hingga 2030
Head of Research & Consulting, Data Centre Group APAC, Cushman & Wakefield Pritesh Swamy. (Dok Cushman & Wakefield-LinkedIn)--
Hal yang menarik, tingkat kekosongannya justru menurun dari 11,0% menjadi 10,3%. Artinya, kehadiran pusat data baru dari erusahaan multnasional justru mendorong minat baru pelanggan untuk menyewanya.
Data pun merangkum, aktivitas pre-leasing data center di kawasan Asia-Pasifik justru meningkat 115% dibandingkan setahun lalu (year on year/YoY) dengan lebih dari 7,8 GW kapasitas masa depan yang telah dikontrak.
Tren tersebut juga tercermin di Indonesia. Perusahaan penyedia layanan cloud, AI, dan korporasi domestik, berlomba dan makin aktif mengamankan kapasitas lebih awal, bahkan sebelum fasilitas pusat data mulai dibangun.
Pembiayaan Perbankan
Di tengah, kebutuhan Indonesia terhadap capex sekitar US$17,9 miliar sepanjang 2026–2030 untuk ekspansi dan memenuhi kebutuhan kapasitas data centre yang terus meningkat, transaksi kesepakatan dengan perbankan pun terjadi.
Dengan kebutuhan investasi tersebut, Indonesia pun menjadi salah satu pasar dengan kebutuhan pendanaan dan pertumbuhan pusat terbesar/tercepat di Asia-Pasifik.
Sejumlah transaksi pembiayaan di Indonesia pun telah berhasil diselesaikan, termasuk fasilitas pinjaman senilai US$320 juta yang melibatkan Bank Permata, BCA, dan KB Bank, serta sebesar US$411 juta yang didukung DBS dan UOB.
Keterlibatan bank nasional dan regional menunjukkan bahwa pusat semakin dipandang sebagai salah satu kelas aset infrastruktur yang menarik bagi investor dan institusi keuangan.
BACA JUGA:NeutraDC Perluas Data Center Cikarang hingga 200 MW
Pertumbuhan Jangka Panjang
Dari sisi permintaan, bisnis pusat di Indonesia memiliki basis pasar yang besar dengan ruang pertumbuhan yang masih luas.
Saat ini, rasio populasi di Tanah Air terhadap kapasitas data centre operasional di Indonesia mencapai sekitar 616.000 orang per MW, lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia-Pasifik 248.000 orang per MW.
Perbandingan tersebut mengindikasikan bahwa kapasitas data centre Indonesia masih relatif terbatas dibandingkan jumlah penduduknya. Hal ini sekaligus mencerminkan potensi pengembangan kapasitas lebih lanjut seiring pertumbuhan kebutuhan infrastruktur digital.
Pertumbuhan permintaan cloud, adopsi AI, digitalisasi korporasi, serta kebijakan kedaulatan data diperkirakan akan terus menjadi pendorong utama kebutuhan data centre dalam beberapa tahun ke depan.
Sejalan dengan tren tersebut, Indonesia pun diproyeksikan menghasilkan pendapatan dari persewaan raks pusat data (colocation) lebih dari US$3,4 miliar pada 2030.