Infodigital.co.id

Lebih 1 Juta Rekening Bank Diretas

Ilustrasi akun bank rawan diretas. (Dok Kaspersky)

Jakarta, ID – Kaspersky, perusahaan konsultan dan penyedia solusi sekuriti siber asal Rusia, mendeteksi lebih dari 1 juta akun perbankan online pada 100 bank terbesar telah diretas dan jadi korban infostealer.

Kredensial yang diretas untuk akun-akun bank di dunia tersebut dibagikan secara bebas di dark web. Negara-negara dengan jumlah rata-rata akun yang diretas per bank tertinggi adalah India, Spanyol, dan Brasil.

Infostealer merupakan jenis perangkat lunak perusak (malware) yang dirancang khusus untuk menyusup ke perangkat pengguna dan mencuri informasi sensitif secara diam-diam. Malware bekerja dengan cara mengambil data pribadi lalu mengirimkannya ke server peretas.

Selain itu, telah terjadi perubahan tren mulai tahun lalu, ancaman siber finansial  bergeser ke arah pencurian kredensial dan penggunaan kembali data.

Penjahat siber sudah beralih dari malware perbankan PC tradisional dan makin mengandalkan rekayasa sosial dan pasar dark web. Sementara itu, malware finansial seluler terus berkembang.

Polina Tretyak, analis Kaspersky Digital Footprint Intelligence, mengatakan, dark web kini telah menjadi pusat utama kejahatan siber finansial.

“Kredensial dan kartu perbankan yang dicuri infostealer dikumpulkan, dikemas ulang, dan dijual di sana. Sedangkan perangkat phishing yang ditargetkan pada pengguna produk finansial ditawarkan sebagai layanan siap pakai,” ujar Polina, dikutip InfoDigital.co.id, Jumat (17/4/2026).

Hal tersebut pun telah menciptakan ekosistem berkelanjutan di mana pencurian data dan operasi penipuan saling menguatkan satu sama lain, sehingga membuat serangan dapat diskalakan dan mudah dilakukan oleh penipu dengan pengalaman minimal.

“Memutus siklus ini membutuhkan intelijen ancaman proaktif dari pihak organisasi, dan peningkatan kesadaran serta pengawasan dari pengguna individu,” imbuhnya.

Phishing Finansial

Dalam ulasannya, Polina menjelaskan, phishing finansial tradisional belum hilang. Halaman yang meniru toko online masih mendominasi lanskap phishing finansial (48,5% pada 2025, naik 10,3% dari tahun 2024).

Hal itu diikuti oleh perbankan (26,1% tahun 2025, turun 16,5% dari tahun 2024) dan sistem pembayaran (25,5% pada 2025, naik 6,2% dari tahun 2024).

Penurunan serangan phishing perbankan mungkin menunjukkan bahwa layanannya semakin sulit untuk dipalsukan, sehingga para penipu beralih ke cara yang lebih mudah untuk mengakses keuangan pengguna.

Para penyerang juga menyesuaikan kampanye mereka dengan kebiasaan digital regional.

Di Timur Tengah, serangan phishing finansial sebagian besar terkonsentrasi pada e-commerce (85,8%), menunjukkan ketergantungan yang besar pada umpan ritel online.

Di sisi lain, di Afrika, serangan phishing terkait perbankan mendominasi (53,75%), yang mungkin menunjukkan bahwa keamanan akun pengguna di sana masih belum memadai.

Di Amerika Latin menunjukkan distribusi yang lebih seimbang, tetapi, dengan pangsa e-commerce (46,3%) dan penargetan bank (42,25%) yang lebih tinggi

Sementara itu, Asia-Pasifik dan Eropa menunjukkan penyebaran yang lebih merata di ketiga kategori tersebut, menunjukkan strategi serangan yang beragam.

Malware Finansial

Masih pada 2025, penurunan jumlah pengguna yang terdampak malware finansial pada PC terus berlanjut karena pengguna makin bergantung pada perangkat seluler untuk mengelola keuangan.

Hal itu kontras dengan malware perbankan pada PC, serangan perbankan seluler meningkat 1,5 kali lipat tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.

Ancaman Finansial dan Dark Web

Sebagai pelengkap malware keuangan tradisional, infostealer memainkan peran penting dalam memungkinkan kejahatan siber finansial baik di PC maupun perangkat seluler.

Mereka mengumpulkan kredensial login, cookie, nomor kartu perbankan, frasa kunci aset kripto, dan data pengisian otomatis dari browser dan aplikasi, yang kemudian digunakan penyerang untuk pengambilalihan akun atau penipuan perbankan langsung.

Data Kaspersky menunjukkan lonjakan deteksi infostealer (naik 59% secara global di PC dari tahun 2024 hingga 2025), yang memicu serangan berbasis kredensial.

Kawasan Asia-Pasifik bahkan menunjukkan peningkatan signifikan dalam hal ini, yaitu mencapai 132%. (bdm)

Jumlah Akun Bank Diretas Tahun 2025

No Negara Jumlah Akun
1. India 149.917
2. Spanyol 44.625
3. Brasil 22.783
4. Kanada 7.930
5. AS 7.929
6. Inggris Raya 5.741
7. Italia 5.068
8. Prancis 3.612
9. Korea Selatan 3.288
10. Australia 2.870

Sumber: Kaspersky, April 2026

Komentar

Iklan