Infodigital.co.id

Indosat dan Lintasarta Inbrengkan Modal Aset Triliunan ke PT Infra Fiber Teknologi

Gedung Kantor Pusat Indosat di Jakarta Pusat. (Dok Indosat)

Jakarta, ID –  PT Indosat Tbk (ISAT) atau dikenal juga sebagai Indosat Ooredoo Hutchison dan PT Aplikanusa Lintasarta telah menambah modal nontunai (inbreng) triliunan rupiah kepada anak usaha yang bergerak di bidang fiber optik, yakni PT Infra Fiber Teknologi.

PT Infra Fiber Teknologi merupakan anak usaha bersama Indosat dan Lintasarta dengan masing-masing kepemilikan saham 99% dan 1%. Di sisi lain, Lintasarta juga merupakan anak usaha Indosat dengan kepemilikan 72,36%.

Penambahan modal inbreng aset fiber optik dan terkait oleh Indosat dan Lintasarta kepada PT Infra Fiber Teknologi itu dilakukan sebagai bagian dari rencana pembentukan usaha gabungan (joint venture/JV) kabel fiber optik bersama Arsari Group (milik Hashim Djojohadikusumo) dan Northstar Group (milik Patrick S Walujo).

Sekretaris Perusahaan dan Direktur Indosat Reski Damayanti menyampaikan, Indosat dan Lintasarta menambah modal ke dalam PT Infra Fiber Teknologi (anak perusahaan) dengan cara inbreng atas aset-aset yang dimiliki pada Kamis (7/5/2026) pekan lalu.

“Transaksi yang dilakukan oleh perseroan (Indosat) dan Lintasrta sehubungan dengan penambahan modal ke dalam PT Infra Fiber Teknologi dengan cara inbreng atas aset-aset yang dimiliki,” ujar Reski, dikutip InfoDigital.co.id.

Dia menjelaskan, transaksi inbreng tersebut merupakan tindak lanjut dari perjanjian investasi antara Indosat, Lintasarta, PT Ainfrastruktur Indonesia Raya tanggal 23 Desember 2025 sebagaimana telah diungkapkan oleh Indosat sebelumnya.

Perjanjian tersebut kemudian diubah dan dinyatakan kembali melalui amandemen dan pernyataan kembali atas perjanjian investasi pada 6 Mei 2026 yang telah diungkapkan oleh Indosat melalui keterbukaan informasi.

Berdasarkan amandemen dan pernyataan kembali perjanjian investasi, Indosat dan Lintasarta merupakan pemilik dan pengelola aset, yaitu sejumlah aset jaringan serat optik yang akan diinbrengkan ke dalam PT Infra Fiber Teknologi yang kemudian akan diambilalih oleh PT Ainfrastruktur Indonesia Raya selaku investor.

Lebih lanjut, Indosat, Lintasarta, PT Infra Fiber Teknologi pun telah menandatangani perjanjian operasional bersamaan dengan dilakukannya penambahan modal inbreng tersebut.

Aset Fiber Optik

Sementara itu, dalam pengumumannya, Direksi Indosat dan Lintasarta pun telah melakukan penilaian atas aset-aset fiber optik dan terkait yang telah dinbrengkan dengan total nilai pasar bisnis mencapai sekitar Rp13,71 triliun.

Aset Indosat terdiri atas jaringan kabel fiber optik backbone dan access dengan total panjang sekitar 71.245.292 meter di berbagai wilayah yang mencakup Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Sumatera.

Selanjutnya, jaringan kabel fiber optik submarine Indosat dengan total panjang sekitar 3.305.372 meter yang tersebar di Jakabare, Jakarta-Surabaya, Jakasusi, Jasutra, dan Javal.

Kemudian, aset Lintasarta berupa jaringan kabel fiber optik dengan total panjang sekitar 8.320.571 meter di berbagai wilayah operasional yang mencakup Pulau Bali, Jawa, Kalimantan, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Maluku, Nusa Tenggara, Papua, Sulawesi, dan Sumatera

Dengan menggunakan pendekatan pendapatan dan pendekatan aset, nilai pasar bisnis fiber optik Indosat dan Lintasarta per 31 Desember 2025 masing-masing mencapai Rp13.504.351.000.000 dan Rp218.301.000.000.

“Dampak kejadian, informasi atau fakta material tersebut terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan, atau kelangsungan usaha (Indosat),” tutup Reski.

Pada perdagangan Senin (11/5/2026), saham ISAT ditransaksikan melemah Rp60 (2,68%) ke penutupan Rp2.180. Sahamnya dibuka dari Rp2.250 yang juga menjadi posisi tertinggi dan sempat ke level terendah Rp2.110. (bdm)

Komentar

Iklan