Infodigital.co.id

Baru 17% Perempuan RI Kerja di Sektor Teknologi

Menkomdigi Meutya Hafid (kiri depan) di Bekasi, Jawa Barat. (Dok Kemkomdigi)

Jakarta, ID – Saat ini, baru 17%perempuan Indonesia berkarier di sektor teknologi. Pemerintah, melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), pun terus mendorong perempuan agar memiliki akses dan peran teknologi yang setara dengan kaum pria.

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menyampaikan, peningkatan partisipasi perempuan di bidang sains dan teknologi bukan sekadar isu kesetaraan. Hal ini juga jadi kunci pertumbuhan ekonomi digital Indonesia di masa depan.

Apalagi di tengah Indonesia diproyeksikan membutuhkan 12 juta talenta digital pada 2030. Sementara itu, saat ini masih terdapat kekurangan sekitar 3 juta talenta.

Menurut Meutya, tantangan tersebut tidak akan teratasi tanpa membuka akses yang lebih luas dan adil bagi kaum perempuan untuk belajar, tumbuh, dan berkarier di bidang teknologi.

“Tantangannya bukan hanya soal jumlah, tetapi soal akses yang setara bagi perempuan untuk terlibat dan tumbuh di dalamnya,” ujar Menkomdigi Meutya Hafid, dalam acara AWS Girls’ Tech Day di Bekasi, Jawa Barat, dikutip InfoDigital.co.id, Senin (9/2/2026).

Menkomdigi pun menyoroti masih terjadinya fenomena leaky pipeline atau kurangnya jumlah perempuan yang berkarier di sektor teknologi di Tanah Air.

Data menunjukkan partisipasi perempuan dalam pelatihan digital baru mencapai 36%. Itu pun, hanya sekitar 17% Perempuan yang benar-benar akhirnya melanjutkan karier profesional di bidang teknologi.

“Di Indonesia, peran teknis mendalam seperti AI dan engineering baru melibatkan sekitar 15-18% perempuan. Kita harus memastikan akses digital berkembang menjadi keterampilan dan peluang kerja nyata,” tegasnya.

Visi Kemkomdigi melalui slogan ‘Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga’ pun menjadi fondasi untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Terhubung berarti membuka akses pengetahuan bagi anak perempuan, Tumbuh berarti mengembangkan talenta, serta Terjaga berarti menciptakan ruang digital yang aman dan inklusif.

Menkomdigi menjelaskan bahwa faktor struktural seringkali menghambat perempuan di bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).

Stereotip gender, kurangnya rasa aman, hingga minimnya role model juga menjadi penyebab utama. Karena itu, pemerintah berkomitmen menjaga ruang digital agar tetap ramah bagi perempuan dan anak.

AWS Girls’ Tech Day

Dia pun mengapresiasi program AWS Girls’ Tech Day sebagai bentuk kolaborasi pemerintah dengan industri.

Program tersebut memberikan pengalaman belajar kecerdasan artifisial (AI), coding, dan robotika kepada 400 siswi dari jenjang SD hingga tingkay SMA.

“Jangan takut mencoba teknologi dan jangan takut salah. Masa depan digital Indonesia membutuhkan kreativitas, empati, dan keberanian kalian,” pesan Meutya kepada para siswi peserta program.

Sementara itu, sinergi pemerintah dan industri diharapkan dapat melahirkan talenta-talenta digital perempuan yang akan membawa Indonesia menjadi kekuatan utama ekonomi digital di dunia. (lmm)

Komentar

Iklan