ByteDance Jual TikTok di AS Sebelum 5 April

Jakarta, ID – ByteDance, perusahaan platform teknologi asal China, diyakini bisa menemukan pembeli dan menjual platform andalannya, TikTok, khusus di Amerika Serikat (AS) sebelum batas waktu ditentukan 5 April 2025.
Hal tersebut sebenarnya memang menjadi persyaratan yang telah diberikan kepada ByteDance ketika Presiden AS Donald Trump dilantik pada 20 Januari 2025 agar TikTok tetap beroperasi di AS dan terhindar dari larangan.
Pada Jumat (14/3/2025), Wakil Presiden AS JD Vance cukup yakin bahwa akan terjadi kesepakatan untuk tetap menjalankan operasi TikTok di AS sebelum tanggal 5 April mendatang.
“Hampir pasti akan ada kesepakatan tingkat tinggi yang menurut saya memenuhi kekhawatiran keamanan nasional kita, memungkinkan adanya perusahaan TikTok Amerika yang berbeda,” ungkap JD Vance, dikutip InfoDigital.co.id.
Selama wawancara dengan NBC News di atas pesawat Air Force Two milik Wakil Presiden AS, Vance mengatakan bahwa Trump memintanya untuk membantu menjadi perantara kesepakatan.
Wakil presiden bekerja sama dengan Penasihat Keamanan Nasional AS Michael Waltz dengan harapan menemukan pembeli yang berbasis di AS untuk aplikasi kontroversial tersebut. Sebelum terjun ke dunia politik, ia bekerja di bidang modal ventura.
Anggota parlemen AS, dan bahkan Trump sendiri, (sampai ia menyadari betapa bermanfaatnya platform tersebut untuk kampanyenya), memiliki beberapa keberatan terhadap operasi TikTok.
Aplikasi tersebut dilaporkan mencuri data pribadi milik remaja dan praremaja AS yang menggunakan informasi ini untuk membantu mereka membuka akun TikTok.
Ketakutan lainnya bahwa Tiongkok menyebarkan propaganda kepada remaja AS dengan memasukkan video tertentu di linimasa pemilik akun TikTok muda Amerika tertentu.
“Baik melalui perpanjangan, atau melalui penyelesaian kesepakatan yang memenuhi masalah keamanan nasional, saya pikir kita akan berada di titik di mana kita dapat mengatakan TikTok beroperasi dengan cara melindungi privasi data warga dan keamanan nasional Amerika,” harap JD Vance, mengingatkan.
TikTok di AS telah dinilai dengan harga setinggi $50 miliar. Reid Rasner, CEO perusahaan manajemen kekayaan Omnivest Financial, mengklaim telah mengajukan tawaran sebesar US$47,45 miliar untuk TikTok.
Namun, ByteDance belum mengonfirmasi sedang dalam pembicaraan dengan calon pembeli TikTok di AS. Perusahaan tersebut juga menolak untuk mengungkapkan apakah akan setuju untuk menjual TikTok ke perusahaan AS.
Harus Dimiliki AS
Melanjutkan kebijakan Presiden AS Joe Biden, menurut platfom Phone Arena, Trump tetap menysaratkan pembeli TikTok harus merupakan perusahaan yang berkantor pusat di luar Tiongkok dan beberapa perusahaan AS mungkin tertarik dengan aplikasi tersebut.
Kembali pada 2019, selama masa jabatan pertamanya, ketika Presiden Trump tidak menyukai TikTok, perusahaan-perusahaan AS seperti Walmart, Oracle, dan Microsoft dianggap dan sempat menyampaikan keinginan sebagai calon pembeli.
Pada Agustus 2020, Microsoft sempat dilaporkan terlibat pembicaraan serius dengan ByteDance mengenai pembelian TikTok. Trump akhirnya ‘kehilangan minat’ pada TikTok karena pemilihan presiden 2020 menjadi perhatian utamanya, dan akrinya tidak terpilih dan digantikan oleh Biden.
Selama pemilihan presiden 2024, Trump berubah pikiran mengenai TikTok. Karena, aplikasi tersebut membantu untuk menarik pemilih muda ke kubu Trump dan paparan konstan ini membuatnya menjadi bintang TikTok.
Ironisnya, RUU yang ditandatangani oleh Presiden Joe Biden pada April 2024 memberi ByteDance waktu hingga 19 Januari, sehari sebelum pelantikan kedua Trump, untuk menemukan pembeli non-Tiongkok atau menghadapi pengusiran di negara bagian tersebut.
Namun, Trump menandatangani Perintah Eksekutif pada 20 Januari 2025, ketika kembali ke Ruang Oval periode keduanya, yang memberi TikTok waktu tambahan 75 hari untuk menemukan penjual. Waktu tersebut berakhir pada tanggal 5 April. (dmm)