Bukalapak Pertahankan Investasi di Allo Bank dan Allo Fresh
Jakarta, ID – PT Bukalapak.com Tbk, perusahaan teknologi dan marketplace produk virtual berkode saham BUKA, akan mempertahankan invetasi saham pada PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) dan PT Allo Fresh Indonesia (AlloFresh/AFI).
Sekretaris Perusahaan Bukalapak Cut Fika Lutfi menyampaikan, Bukalapak masih mempertahankannya karena investasi pada Allo Bank dan AlloFresh punya prospek bisnis yang cerah walaupun saat ini belum memberikan kontribusi keuntungan optimal.
Bukalapak menjadi pemegang saham di PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) per 31 Maret 2026. Perseroan memiliki saham sebanyak 2,4 miliar lembar atau 11,49%.
Allo Bank merupakan bank digital terintegrasi di Indonesia milik Mega Corpora (Chairul Tanjung) yang diluncurkan pada 2021. Bank ini menawarkan layanan menabung, transaksi, dan pinjaman (paylater dan instant cash) dalam satu aplikasi.
“Perseroan melihat fundamental Allo Bank telah menunjukkan kinerja keuangan yang kuat, komitmen tinggi dalam berinovasi dan mengadopsi teknologi terbaru untuk meningkatkan efisiensi operasional,” ungkap Sekretaris Perusahaan Bukalapak Cut Fika Lutfi, dikutip InfoDigital.co.id, Rabu (13/5/2026).
Walaupun demikian, lanjut dia, kinerja/harga saham Allo Bank (BBHI) di bursa juga dipengaruhi oleh pasar/faktor eksternal yang di luar kendali perusahaan, seperti kondisi ekonomi makro, sentimen pasar, kebijakan dan regulasi pemerintah, kompetisi dalam industri, serta faktor lainnya.
“Sampai dengan saat ini, Bukalapak belum memiliki rencana divestasi saham BBHI. Perseroan memiliki strategi investasi pada saham yang tercatat di bursa dengan melalui pendekatan selektif berbasis fundamental,” tuturnya.
Sementara itu, Bukalapak juga masih memiliki 35% saham di PT Allo Fresh Indonesia (AFI) dan tahun lalu dilaporkan masih mencatat kerugian Rp163 miliar tahun 2025.
AlloFresh, usaha patungan CT Corp (Chairul Tanjung), Grab, dan Bukalapak, merupakan platform e-grocery omni-channel di Tanah Air yang menyediakan kebutuhan sehari-hari dengan pengiriman cepat.
“Perseroan menilai bahwa PT AFI (AlloFresh) memiliki prospek bisnis yang baik ke depannya. Pendapatan PT AFI secara signifikan meningkat 651% (pada 2025) dibandingkan per 31 Desember 2024,” ucap Cut Fika.
Atas hal tersebut, Bukalapak justru akan mendukung untuk pengembangan produk/bisnis ke depannya, baik dengan melakukan sinergi kerja sama dengan ekosistem bisnis atau mendukung kebutuhan modal kerja untuk pertumbuhan usaha.
Strategi Investasi Portofolio
Berdasarkan Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK) No 9 tentang Aset Keuangan Lancar Lainnya, Bukalapak mencatat peningkatan aset keuangan berupa investasi pada saham tercatat di bursa dan reksadana menjadi sebesar Rp 4,19 triliun per 31 Maret 2026.
Menurut Cut Fika, hampir seluruh peningkatan nilai investasi tersebut disebabkan oleh kenaikan nilai wajar atas investasi perseroan di Allo Bank (BBHI) dibandingkan dengan per 31 Desember 2024.
Sampai dengan saat ini, perseroan melihat belum memiliki rencana untuk melakukan perubahan kepemilikan di BBHI. “Perseroan berencana memperoleh keuntungan melalui hasil investasi,” tutur Cut Fika.
Sementara itu, Bukalapak juga menurunkan investasi obligasi pemerintah dan mengalihkan ke investasi yang lebih menguntungkan. Perseroan pun telah mengurangi investasi pada obligasi pemerintah dari Rp4,19 triliun menjadi Rp84 miliar.
“Pelepasan investasi pada obligasi pemerintah dilakukan perseroan sebagai bagian dari strategi untuk memperoleh kombinasi imbal hasil yang maksimal,” pungkas Cut Fika.
Pada perdagangan Selasa (12/5/2026), saham BUKA ditransaksikan melemah Rp1 (0,70%) ke penutupan Rp142. Sahamnya dibuka dari Rp143, serta sempat di posisi tertinggi Rp146 dan terendah Rp139. (bdm)




