7 Tren AI 2026 Menurut Analog Devices
Jakarta, ID – Perkembangan otomasi dan teknologi industri di Asia Tenggara menjelang tahun 2026 bergerak makin cepat. Para pemimpin teknologi di Analog Devices Inc (ADI) memproyeksikan, tahun 2026, AI tidak lagi hanya akan berada dalam ekosistem digital.
ADI pun memproyeksikan setidanya ada 7 tren teknologi AI tahun depan, yakni physical intelligence, hybrid world models, audio sebagai antarmuka AI, agentic AI, micro-intelligence, AI terdesentralisasi, dan analog AI compute.
Kehadiran AI mulai beroperasi langsung di dunia fisik sekaligus membentuk cara industri merancang robotika, perangkat konsumen, dan sistem otonom di lini produksi.
Nilai pasar industri smart manufacturing yang diproyeksikan mencapai US$13,4 miliar pada 2024 memperlihatkan bagaimana berbagai sektor kini makin bergantung pada sistem yang mampu membaca kondisi nyata di lapangan.
1. Physical Intelligence
Menurut VP of Edge AI and Robotics ADI Paul Golding, tahun 2026 akan ditandai lahirnya physical intelligence, yaitu model AI yang mampu belajar dari fenomena nyata, seperti getaran, suara, magnetik, dan gerakan.
“Berbeda dari generasi sebelumnya yang bergantung pada pusat data, model baru ini diperkirakan akan berpindah ke perangkat edge, yaitu komputasi yang dilakukan langsung di perangkat, atau sensor tanpa harus mengirimkan data ke server pusat,” ujar Golding, dikutip InfoDigital.co.id, Rabu (10/12/2025).
Dengan begitu, lanjut dia, AI mampu mengambil keputusan secara lokal dan menyesuaikan respons berdasarkan kondisi fisik di lingkungan sekitar. Lebih lanjut, dia mengatakan, kemampuan belajar cepat dari situasi baru tersebut, meski hanya diberi sedikit contoh, membuka peluang bagi sistem industri seperti robot pabrik bergerak untuk menangani hambatan tak terduga secara mandiri.
2. Hybrid World Models
Golding juga memperkirakan adanya peningkatan penggunaan hybrid world models, yang menyatukan penalaran matematis dan fisik dengan data sensor yang terfusi.
Dengan pendekatan tersebut, model AI bukan lagi sekadar memetakan dunia, tetapi juga mampu berpartisipasi langsung, berinteraksi, dan belajar dari pengalamannya sendiri.
3. Audio Antarmuka AI
Di ranah perangkat konsumen, Golding juga melihat audio sebagai antarmuka AI utama pada 2026. Perpaduan spatial sound, sensor fusion, dan on-device reasoning akan mendorong hadirnya perangkat yang lebih kontekstual.
Hal itu dimulai dari kacamata augmented reality hingga earbuds dan sistem audio kendaraan yang dapat menafsirkan niat, emosi, maupun kondisi lingkungan pengguna.
Teknologi tersebut diperkirakan menghadirkan peningkatan signifikan dalam noise cancellation, daya tahan baterai, serta membuka peluang form faktor baru.
“Tren perangkat always-in-ear yang sudah berkembang di kalangan Gen Z akan menguat seiring kemampuan AI menghadirkan pengalaman pendengaran yang lebih peka dan intuitif,” imbuhnya.
4. Agentic AI
Golding juga menyoroti kemunculan agentic AI, yaitu sistem yang tidak hanya memprediksi, tetapi mampu mengambil tindakan melalui intervensi yang dilatih dalam simulasi berbasis fisika.
Menurut dia, tahun 2026 akan menjadi momentum mainstream bagi digital twin yang memperkaya model besar dengan pemahaman fisik.
Dengan begitu, sistem AI dapat mempelajari dinamika gaya dan tekanan dalam lingkungan simulasi sebelum diterapkan ke operasi nyata.
Ia menggambarkan skenario industri di mana agen dapat menindaklanjuti prediksi kerusakan mesin secara otomatis, mengalihkan beban produksi ke mesin yang lebih sehat, menurunkan kapasitas mesin yang tertekan, hingga menyesuaikan inventori tanpa intervensi manusia.




