Vertiv Hadirkan Panduan Infrastruktur AI untuk Perusahaan
Vertiv dan Deloitte berikan paduan adopsi AI bagi perusahaan. (Dok Vertiv)--
Jakarta, ID – Vertiv Holdings Co, pemimpin global dalam infrastruktur digital kritis, bersama Deloitte Center for Integrated Research memperkenalkan panduan untuk tentukan infrastruktur artificial intelligence (AI) sesuai kebutuhan perusahaan.
Kolaborasi tersebut dilakukan dengan tujuan membantu perusahaan mengatasi salah satu tantangan utama dalam melakukan transisi AI dari tahap eksperimen hingga implementasi produksi, yaitu menentukan di mana beban kerja AI sebaiknya dijalankan dan apakah infrastruktur fisik yang tersedia mampu mendukungnya.
Panduan baru Vertiv Designing Infrastructure for Enterprise AI Guide dikembangkan oleh Vertiv bersama STL Partners.
STL Partners merupakan sebuah firma riset infrastruktur digital yang menyediakan kerangka kerja berbasis beban kerja bagi para pimpinan bisnis, IT, dan fasilitas infrastuktur AI untuk membantu mengambil keputusan tersebut sebelum menetapkan rencana infrastruktur.
BACA JUGA:Indonesia Fokus Dorong Adopsi AI pada 4 Sektor
CEO Vertiv Giordano Albertazzi mengatakan, fase berikutnya dari AI enterprise tidak hanya ditentukan oleh model AI dan kemampuan komputasi.
“Tetapi, (hal itu) juga oleh kemampuan organisasi dalam menyediakan daya, pendinginan, konektivitas, dan lingkungan operasional yang dibutuhkan oleh setiap AI yang akan digunakan,” ujar Giordano, dikutip InfoDigital, Senin (2/11/2026).
Dengan memulai dari pemahaman terhadap beban kerja tersebut, lanjut dia, perusahaan dapat mengambil keputusan terkait infrastruktur lebih awal, mengidentifikasi keterbatasan dengan lebih cepat, dan membangun jalur yang lebih realistis untuk melakukan transisi AI dari tahap uji coba menuju implementasi produksi.
“Kebutuhan operasional dan pertimbangan ekonomi AI akan berubah seiring peralihan ke tahap produksi,” tambah Principal and Silicon2Service U.S. Lead di Deloitte Consulting LLP Nicholas Merizzi.
Menurut dia, organisasi perlu mempertimbangkan nilai bisnis, tata kelola, kepemilikan operasional, dan infrastruktur secara bersamaan dalam mengadopsi AI.
Karena itu, pembahasan berbagai aspek tersebut sejak tahap perencanaan akan memberikan landasan yang lebih kuat bagi para pemimpin untuk menentukan di mana beban kerja AI sebaiknya dijalankan dan bagaimana cara mendukungnya dalam jangka panjang.
BACA JUGA:33% Pekerja Indonesia Berada di Garis Depan Adopsi AI
Adopsi AI di Perusahaan
Dengan memulai dari tujuan bisnis yang ingin dicapai dan beban kerja AI yang akan dijalankan, organisasi pun dapat mengevaluasi lokasi implementasi, kebutuhan infrastruktur, serta kesiapan fasilitas.