RI No 12 Ancaman Siber di Asia-Pasifik
AI Tantangan dan Solusi
Microsoft juga menyoroti kemajuan AI telah menciptakan paradoks baru dalam keamanan siber.
Di satu sisi, pelaku kejahatan memanfaatkan AI untuk mempercepat pencarian kerentanan dan melipatgandakan skala phishing otomatis, yang kini memiliki tingkat keberhasilan 4,5 kali lebih tinggi dibandingkan phishing tradisional yang dari 12-54% click-through rates.
Namun di sisi lain, AI juga memperkuat barisan pertahanan organisasi. Melalui Microsoft Sentinel, Security Copilot, dan rangkaian produk di Microsoft Security Store, organisasi kini dapat memanfaatkan agen AI tanpa kode untuk menganalisis miliaran sinyal ancaman setiap harinya, mengotomatisasi deteksi anomali, dan merespons serangan dalam hitungan detik.
Pendekatan tersebut sejalan dengan Secure Future Initiative (SFI) yang dikembangkan Microsoft, dengan prinsip secure by design, secure by default, dan secure operations, untuk memastikan keamanan menjadi bagian dari DNA setiap produk dan proses.
4 Tips Mengatasinya
MDDR 2025 juga menyoroti perlunya pendekatan keamanan yang lebih menyeluruh, tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga kesiapan manusia dan proses.
Microsoft merekomendasikan empat langkah utama untuk memperkuat ketahanan siber.
1. Gunakan MFA tahan phishing. Batasi pula hak akses sesuai prinsip least privilege.
2. Bangun budaya keamanan siber. Tingkatkan keterampilan dan kesadaran di seluruh divisi agar keamanan menjadi fungsi bisnis dan tanggung jawab bersama, bukan hanya tim IT.
3. Petakan dan awasi aset cloud. Serangan terhadap cloudtelah meningkat 87% tahun ini, sehingga perlu memperkuat perlindungan data dan cloud dengan pembaruan sistem serta deteksi ancaman di seluruh perangkat dan aplikasi.
4.Manfaatkan AI secara aman dan bertanggung jawab. Perlakukan model AI dan data sebagai aset yang perlu dilindungi secara keseluruhan, sekaligus untuk mendeteksi, menganalisis, serta merespon ancaman dengan cepat. (dmm)




