Infodigital.co.id

Makna Sidak Menkomdigi ‘Tampar’ Meta Platforms di Jakarta

Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC Dr Pratama Persadha. (Dok CISSReC) 1

Konten manipulatif yang disebarkan secara sistematis dapat memicu polarisasi, mengganggu proses demokrasi, serta menciptakan distrust terhadap institusi negara.

Dalam ekosistem digital yang digerakkan algoritma, konten provokatif dan sensasional cenderung mendapatkan amplifikasi lebih tinggi. Tanpa pengawasan dan transparansi memadai, mekanisme ini dapat memperbesar risiko konflik sosial.

Kepatuhan Meta Rendah

Ketika tingkat kepatuhan Meta Group dinyatakan rendah berada di bawah 30%, implikasinya bukan hanya pada pelanggaran administratif, tetapi juga pada efektivitas mitigasi risiko keamanan.

Regulasi nasional dirancang untuk melindungi data pribadi, memastikan moderasi konten yang bertanggung jawab, serta menekan penyebaran konten ilegal.

Ketika kepatuhan rendah, seperti dilakukan Meta Group, kapasitas negara yang berperan untuk melindungi warganya di ruang digital pun menjadi tereduksi.

Dalam konteks tersebut, sidak bukan sekadar simbol ketegasan, melainkan juga instrumen penguatan kedaulatan digital negara atas peran Meta Group di wilayah Tanah Air.

Kehadiran unsur lintas Lembaga negara, seperti Badan Intelijen Negara (BIN), Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Satuan Siber TNI, serta unsur penegakan hukum Polri, dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa persoalan itu telah diposisikan sebagai isu keamanan nasional.

Koordinasi tersebut mencerminkan pendekatan terpadu Pemerintah Indonesia dalam merespons rendahnya kepatuhan platform dan meningkatnya kejahatan digital.

Tata Kelola Algoritma

Dalam perspektif keamanan siber, algoritma merupakan infrastruktur kekuasaan informasi. Ia menentukan, apa yang menjadi viral, siapa yang memperoleh visibilitas, dan narasi mana yang menguat di ruang publik.

Apabila negara tidak memahami dan mengawasi arah kerja algoritma, ruang publik nasional dapat secara efektif dikendalikan oleh logika komersial global.

Karena itu, sidak terhadap Meta Platforms di Jakarta dapat dipandang sebagai upaya negara untuk menegaskan bahwa tata kelola algoritma dan arus informasi tidak boleh sepenuhnya ditentukan oleh kepentingan korporasi.

Langkah Menkomdigi Meutya Hafid dalam memimpin  sidak itu memang harus mendapatkan apresiasi yang besar.

Selama bertahun-tahun, platform global sering dipersepsikan lambat dalam merespons kepentingan negara berkembang, khususnya terkait moderasi konten lokal dan perlindungan masyarakat dari penipuan digital.

Hukum, Moral, dan Relasi

Dengan menyatakan secara terbuka tingkat kepatuhan yang rendah serta mengaitkannya dengan lonjakan kejahatan digital dan disinformasi, pemerintah sedang membangun narasi bahwa akuntabilitas platform digital seperti Meta bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban hukum dan moral.

Selain itu, langkah yang ditempuh oleh Menkomdigi yang mendorong keterlibatan berbagai pihak dalam melakukan sidak penanganan masalah platform digital mencerminkan pemahaman yang cukup mendalam mengenai pentingnya kolaborasi dalam tata kelola ruang siber.

Di sisi lain, berurusan dengan perusahaan besar multinasional seperti Meta Group memang tidak selalu mudah karena posisi tawar Indonesia yang tidak terlalu dominan dibanding dengan perusahan tersebut.

Pertama, karena terkesan bahwa yang lebih membutuhkan masyarakat Indonesia, bukan Meta.

Kedua, karena seringkali perwakilan perusahan dari negara kuat, seperti Amerika Serikat, di Indonesia tidak bisa langsung mempengaruhi kebijakan perusahan di pusat.

Dalam kerangka yang lebih luas, sidak tersebut pun merupakan bagian dari upaya Indonesia mencari model regulasi internet yang seimbang antara kebebasan berekspresi, inovasi teknologi, dan perlindungan keamanan nasional. (lmm)

Halaman: 1 2
Komentar

Iklan