Infodigital.co.id

Indosat Ingatkan Perusahaan Perhatikan Keamanan Siber

Indosat luncurkan whitepaper bertajuk ‘A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience’. (Dok Indosat)

Jakarta, ID – PT Indosat Tbk atau Indosat Ooredoo Hutchison, melalui Indosat Business, mengingatkan perusahaan (enterprise) di Tanah Air yang tengah mempercepat transformasi digital untuk membangun keamanan siber.

Kebutuhan enterprise kini tidak lagi hanya sebatas konektivitas dan teknologi, tetapi juga kemampuan membangun ketahanan siber yang adaptif, terintegrasi, dan siap menghadapi ancaman modern.

Hal itu makin penting ketika nilai ekonomi digital nasional diproyeksikan mencapai US$340 miliar pada 2030 yang didorong oleh percepatan adopsi AI, cloud, IoT, dan sistem digital lintas industri.

Karena itu, Indosat Business meluncurkan whitepaper bertajuk ‘A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience’ bersama pakar cybersecurity Dr Ir Charles Lim, MSc, BSc, CSAP, Security+, CySA+, ECDE, CND, CCSE, CTIA, CHFI, EDRP, ECSA, ECSP, ECIH, CEH, CEI.

Whitepaper mengangkat fenomena resilience gap, yaitu kondisi ketika laju transformasi digital berkembang jauh lebih cepat dibandingkan kesiapan organisasi dalam membangun ketahanan siber.

Director & Chief Business Officer Indosat Muhammad Buldansyah mengatakan, Indonesia sedang memasuki fase baru ekonomi digital. Namun, pertumbuhannya  juga harus diiringi dengan ketahanan siber yang memadai.

“Hari ini, cyber resilience bukan lagi isu teknologi semata, tetapi fondasi kepercayaan dan keberlangsungan bisnis,” ujar Buldansyah, dikutip InfoDigital.co.id, Selasa (12/5/2026).

Dia melanjutkan, sebagai perusahaan yang mendampingi transformasi digital enterprise di berbagai sektor, Indosat melihat kebutuhan pendekatan keamanan siber yang lebih strategis dan adaptif makin mendesak.

“Karena itu, kami bekerja sama dengan Dr Charles Lim untuk menghadirkan perspektif yang lebih komprehensif mengenai tantangan dan kesiapan cyber resilience di Indonesia,” tuturnya.

Deputy Head of Master IT Program Swiss German University Dr  Charles Lim menambahkan, ancaman siber telah berkembang jauh lebih cepat dan makin sulit dideteksi, terutama karena munculnya AI-enabled fraud dan deepfake.

“Karena itu, organisasi (perusahaan) perlu beralih dari pendekatan yang reaktif menuju cyber resilience yang lebih adaptif dan berkelanjutan,” saran Dr  Charles Lim.

Lanskap Siber Indonesia 

Sementara itu, lanskap ancaman siber di Indonesia kini Tengah berkembang makin kompleks seiring dengan meningkatnya adopsi AI dan digitalisasi enterprise.

Whitepaper Dr  Charles Lim dan Indosat pun mencatat peningkatan AI-related fraud hingga 1.550% di sektor fintech Indonesia, termasuk penggunaan deepfake dan AI voice impersonation untuk penipuan berbasis identitas.

Besarnya eksposur risiko tersebut turut berdampak kepada kesiapan enterprise. Cisco Cybersecurity Readiness Index 2025 menunjukkan, hanya 11% organisasi di Indonesia siap menghadapi ancaman keamanan siber.

Di sisi lain, rata-rata kerugian akibat kebocoran data di Indonesia dapat mencapai sekitar Rp15 miliar.

Implementasi Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP) ikut mendorong organisasi memperkuat kemampuan monitoring dan respons keamanan siber secara real-time, termasuk memenuhi kewajiban pelaporan insiden dalam waktu 72 jam.

Selain membahas strategi, seperti Zero Trust Architecture dan Human Firewall, whitepaper juga mengulas tantangan ketahanan siber lintas sektor strategis Indonesia, termasuk finansial, manufaktur, pemerintahan, dan pendidikan, yang kini menghadapi eksposur risiko siber makin tinggi.

Melalui whitepaper tersebut, Indosat Business ingin mendorong perusahaan di Indonesia untuk melihat ketahanan siber sebagai bagian integral dari strategi transformasi digital dan daya saing bisnis jangka panjang. (abm)

Komentar

Iklan