Indonesia Dorong Pemanfaatan AI Berdampak Sosial
Jakarta, ID – Indonesia menegaskan komitmennya dalam mendorong pemanfaatan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) yang berorientasi kepada kepentingan publik dan berdampak ke pembangunan sosial.
Hal itu disampaikan oleh Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Wamenkomdigi) Nezar Patria dalam ajang ‘India AI Impact Summit 2026’ yang diselenggarakan di New Delhi, India.
Indonesia disebutnya menekankan bahwa tantangan utama ke depan bukan hanya pembangunan teknologi AI yang makin canggih. AI juga perlu dipastikan mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat, mulai dari layanan kesehatan, pendidikan, hingga pemberdayaan ekonomi lokal.
“Transformasi digital tidak cukup berhenti pada penyediaan infrastruktur. Yang dibutuhkan adalah akses yang bermakna (meaningful access), sehingga teknologi benar-benar menjadi solusi bagi kehidupan masyarakat,” ujar Nezar, dikutip InfoDigital.co.id, Sabtu (21/2/2026)
Pada forum tersebut, Indonesia tampil bersama sejumlah negara berkembang (Global South) lain, termasuk Togo dan Mesir, dalam panel diskusi yang membahas peran negara berkembang mengarahkan pemanfaatan AI agar menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.
Partisipasi Indonesia mencerminkan perubahan penting dalam tata kelola teknologi global. Negara-negara Global South pun tidak lagi sekadar menjadi pengguna teknologi, melainkan mulai berperan sebagai aktor yang ikut membentuk arah pengembangan AI dunia.
Nezar melanjutkan bahwa dampak AI secara global saat ini baru berada pada tingkat enam dari skala sepuluh.
Kemajuannya juga masih perlu diikuti dengan upaya memastikan manfaatnya dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat, khususnya di negara berkembang.
Di sisi lain, delegasi dari Togo menyoroti pentingnya pembangunan kapasitas talenta digital dan kesiapan institusi publik agar mampu mengadopsi AI secara bertanggung jawab.
Sementara itu, perwakilan Mesir menekankan perlunya kerangka tata kelola AI yang menyeimbangkan inovasi teknologi dengan perlindungan masyarakat serta kedaulatan data nasional.
Pengalaman Indonesia
Nezar pun menyampaikan pengalaman Indonesia sebagai negara kepulauan dengan tingkat keberagaman geografis yang tinggi, di mana konektivitas digital dan teknologi menjadi instrumen penting untuk pemerataan layanan publik.
Dengan lebih dari 80% populasi telah terjangkau internet, fokus pembangunan digital Indonesia kini bergeser dari perluasan akses menuju peningkatan kualitas pemanfaatan teknologi. Ini termasuk penggunaan AI untuk layanan publik dan pembangunan sosial.
‘India AI Impact Summit 2026’ pun menjadi momentum penting bagi negara-negara berkembang untuk memperkuat kolaborasi global dalam membangun AI yang inklusif, dapat dipercaya, dan berorientasi pada kemanfaatan publik.
Melalui forum tersebut, negara-negara Global South mendorong pengembangan AI sebagai public good, teknologi yang tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat kesejahteraan sosial dan keadilan digital.
Sementara itu, bagi Indonesia, keterlibatan dalam forum tersebut sekaligus memperkuat posisi strategisnya sebagai negara penghubung (bridge country) yang menjembatani berbagai kepentingan global dalam tata kelola teknologi masa depan.
Berpartisipasi bersama Indonesia, Togo, dan Mesir menunjukkan bahwa masa depan AI tidak lagi hanya ditentukan oleh negara maju atau perusahaan teknologi besar.
Negara-negara berkembang kini makin aktif merumuskan prinsip dan arah pemanfaatan teknologi agar mampu menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. (lmm)




