Grab Miliki 3,7 Juta Mitra Pengemudi
Jakarta, ID – Data internal Grab, platform/aplikasi super terkemuka di Asia Tenggara, menyebutkan punya total 3,7 jutaan mitra pengemudi terdaftar untuk wilayah operasi di Indonesia.
Lebih dari 80% dari mereka merupakan mitra pengemudi roda 2 (sepeda motor) dan sekitar 67% mitra pengemudi roda 4 (mobil) menjadikan Grab sebagai sumber penghasilan sampingan. Pendapatan mereka bisa mencapai Rp10 jutaan per hari.
Sebagian besar dari mereka memilih menjadi mitra pengemudi roda 4 untuk sewa mobil penumpang/taksi online GrabCar. Sedangkan pemilik sepeda motor banyak yang menjadi mitra pengemudi ojek online (ojol) GrabBike.
Kondisi tersebut memperkuat gambaran bahwa ekosistem on-demand berfungsi sebagai ruang partisipasi yang adaptif, sehingga memungkinkan individu mitra menentukan sendiri tingkat keterlibatan sesuai kebutuhan ekonomi dan situasi hidupnya.
Kategori mitra pengemudi roda 4 dan 2 dalam ekosistem ekonomi informal (gig economy) terbagi berdasarkan tingkat intensitas kerja dan kontribusi pendapatan yang dihasilkan setiap bulan, yaitu mitra pengemudi roda empat sebagai penghasilan utama dan sampingan.
Chief Executive Officer Grab Indonesia Neneng Goenadi mengatakan, komposisi mitra pengemudi roda 2 dan roda 4 di ekosistem Grab Indonesia menunjukkan bahwa fleksibilitas adalah fondasi utama model on-demand.
“Mayoritas mitra memilih menjadikan platform sebagai penghasilan sampingan. Sementara itu, hanya sebagian kecil yang menjadikan ojol sebagai nafkah utama,” ujar Neneng di Jakarta, dikutip InfoDigital.co.id, Sabtu (28/2/2026).
Tingkat produktivitasnya pun dinamis dan dapat berbeda setiap bulan karena menyesuaikan dengan fase kehidupan serta kondisi masing-masing dari mitra.
“Inilah wajah nyata gig economy di Indonesia, ruang penghasilan yang hadir sesuai kebutuhan, yaitu menjadi nafkah utama bagi sebagian dan penghasilan sampingan bagi kebanyakan,” imbuhnya.
Mitra Pengemudi Mobil
Pada kategori mitra pengemudi roda empat penghasilan utama, aktivitas mengemudi menjadi fokus utama pekerjaan. Sekitar 10–11% mitra menjadikan Grab sebagai nafkah utama dengan kisaran pendapatan lebih dari Rp10 juta per bulan.
Kelompok tersebut rata-rata menyelesaikan sekitar 11 order per hari narik, dengan tingkat produktivitas yang tinggi dan konsisten. Bagi mereka, platform menjadi sumber penghasilan utama untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan biaya hidup.
Sementara itu, sekitar 21–22% mitra tergolong dalam kategori penghasilan rutin, dengan kisaran pendapatan Rp4–10 juta per bulan. Rata-rata mereka menyelesaikan 7 order per hari narik.
Kelompok tersebut tetap narik secara teratur, namun memiliki pola kerja yang lebih fleksibel dibanding kategori nafkah utama.
Mereka mengatur sendiri jam operasionalnya, tetap konsisten hampir setiap hari, tetapi memanfaatkan fleksibilitas waktu untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan aktivitas pribadi.
Kemudian, mitra pengemudi roda 4 sebagai penghasilan sampingan menjadikan aktivitas mengemudi sumber pendapatan tambahan. Sekitar 33–34% mitra memperoleh penghasilan tambahan Rp1–4 juta per bulan.
Pada umumnya, mereka memiliki pekerjaan utama lain dan mengemudi dilakukan di sela-sela waktu luang. Dalam periode 2–4 jam saat narik, mereka rata-rata menyelesaikan sekitar 4 order per hari.
Sementara itu, sekitar 34–35% lainnya termasuk dalam kategori penghasilan sesekali dengan pendapatan hingga Rp1 juta per bulan. Kelompok ini narik lebih situasional dengan durasi berkendara 1–2 jam dan rata-rata menyelesaikan 3 order per hari narik.
Mereka umumnya memilih waktu-waktu tertentu seperti akhir pekan atau saat membutuhkan pemasukan ekstra, dengan pola kerja yang sangat fleksibel dan tidak rutin setiap hari.
Secara keseluruhan, data tersebut menegaskan bahwa fleksibilitas menjadi fondasi utama model kemitraan. Karena mitra bebas menentukan tingkat keterlibatan, intensitas narik, serta ritme kerja sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing.




