Selanjutnya, pengumuman resmi dari UNESCO diperkirakan berlangsung pada Oktober 2027.
Kementerian Ekraf pun mengajak seluruh elemen masyarakat, komunitas kreatif, pegiat usaha, dan media di Tanah Air untuk aktif mempromosikan keunggulan kriya Bantul dan gastronomi Padang.
BACA JUGA:Kementerian Ekraf Penuhi Hak Akses Publik Atas Informasi
Karya Kriya Bantul
Kabupaten Bantul sudah dikenal memiliki kekuatan ekosistem kriya bernilai sejarah sejak abad ke-16 Kerajaan Mataram Islam.
Ekosistem memanfaatkan material alam seperti bambu, pandan, eceng gondok, pelepah pisang, kayu, batu, dan kulit melalui pendekatan ekonomi sirkular dan restorasi ekologis.
Berbasis nilai ekspor yang telah menembus 38 negara dengan nilai US$6,71 juta, industri kriya Bantul juga inklusif karena melibatkan lebih dari 45 persen perajin perempuan serta membuka ruang bagi penyandang disabilitas dan generasi muda.
"Kami berkomitmen untuk memperbaiki hal-hal yang masih belum sempurna, terutama memperkuat ekosistem kreatif yang sudah terbangun cukup lama,” kata Bupati Bantul Abdul Halim Muslih.
Gastronomi Kota Padang
Sementara itu, Kota Padang menonjolkan kekuatan gastronomi hasil akulturasi sejarah perdagangan rempah dan harmoni multietnis Minangkabau, Tionghoa, India, serta Nias.
Tradisi kuliner Padang, seperti makan bajamba, manatiang piriang, dan teknik marandang menjadi bagian dari warisan budaya yang terintegrasi dengan industri kreatif lokal.
Ekosistem gastronomi Padang saat ini menyerap lebih dari 53 ribu tenaga kerja, menembus pasar ekspor bumbu internasional, serta didukung infrastruktur modern, seperti Sentra Rendang dan Bagindo Aziz Chan Youth Center.
“Kami sangat bersyukur menjadi salah satu nominasi untuk mengajukan kepada UNESCO Creative Cities Network bukan hal yang mudah,” ucap Wali Kota Padang, Fadly Amran.
Saat ini, Indonesia telah memiliki tujuh kota anggota UCCN, yaitu Pekalongan (Crafts and Folk Art, 2014), Bandung (Design, 2015), Ambon (Music, 2019), Jakarta (Literature, 2021), Surakarta (Crafts and Folk Art, 2023), Ponorogo (Crafts and Folk Art, 2025), dan Malang (Media Art, 2025). (bdm)