Infodigital.co.id

Usaha Patungan Fiber Optik Indosat, Hashim, dan Patrick Walujo Diputuskan Nonterbuka

Gedung Kantor Pusat Indosat di Jakarta Pusat. (Dok Indosat)

Jakarta, ID – Perusahaan patungan (joint venture/JV) fiber optik yang akan dibentuk oleh PT Indosat Tbk bersama Arsari Group (milik Hashim Djojohadikusumo) dan Northstar Group (milik Patrick S Walujo) diputuskan bukan perusahaan terbuka/tertutup.

Pada awalnya, perusahaan JV baru yang akan melakukan pengambilalihan atas perusahaan fiber optik target, sebagaimana diatur dalam perjanjian investasi awal yang ditandatangani pada 23 Desember 2025, direncanakan perusahaan terbuka yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Hal itu termuat dalam perjanjian amandemen semua pihak tersebut yang diteken di Jakarta pada Rabu (6/5/2026) pekan ini serta telah dilaporkan kepada Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia.

“Para pihak sepakat perusahaan yang akan melakukan pengambilalihan atas perusahaan target bukan lagi perusahaan terbuka, melainkan perusahaan tertutup,” ungkap Sekretaris Perusahaan dan Direktur Indosat Reski Damayanti, dikutip InfoDigital.co..id, Jumat (8/5/2026).

Sebelumnya, pada 23 Desember 2025, Indosat bersama Arsari dan Northstar telah meneken perjanjian investasi pembentukan JV untuk membangun sebuah platform serat/fiber optik digital terkemuka di Indonesia (FiberCo Raya).

Terkini, amandemen dan pernyataan kembali atas perjanjian investasi antara Indosat, PT Aplikanusa Lintasarta (anak usaha Indosat), PT Ainfrastruktur Indonesia Raya (investor) kembali diteken pada Rabu (6/5/2026).

Intinya, perjanjian berisi jual-beli saham bersyarat (conditional sale and purchase agreement/CSPA) akan dilakukan antara Indosat dan Lintasarta sebagai penjual dan perusahaan baru sebagai pembeli.

“Perjanjian pemegang saham (shareholders agreement) juga diteken antara Indosat, Lintasarta, dan investor tertanggal 6 Mei 2026,” tutur Reski.

Lebih terperinci, dia menyampaikan, Indosat dan Lintasarta masing-masing merupakan pemilik dan pengelola atas aset berupa kumpulan jaringan kabel fiber optik.

Selanjutnya, investor akan melakukan pengambilalihan atas suatu perusahaan (perusahaan target) secara tidak langsung melalui suatu perusahaan JV baru yang akan ditentukan kemudian.

Para pihak akan melakukan serangkaian transaksi yang mencakup pengambilalihan aset ke dalam perusahaan target oleh perusahaan JV baru melalui kombinasi utang, penyetoran modal dalam bentuk nontunai (inbreng), dan secara tunai.

Transaksi tersebut pun akan mengakibatkan para pihak menjadi pemegang saham secara langsung di perusahaan baru, dan selanjutnya perusahaan baru akan memiliki mayoritas saham di dalam perusahaan target.

Sebagai informasi tambahan, Lintasarta saat ini merupakan perusahaan terkendali Indosat yang sahamnya dimiliki secara langsung sebesar 72,36%. Lebih lanjut, Indosat tidak memiliki hubungan afiliasi dengan investor.

Pada perdagangan Kamis (7/5/2026), saham ISAT ditransaksikan menguat Rp20 (0,94%) ke penutupan Rp2.150. Sahamnya dibuka dari Rp2.170, serta sempat ke level terendah Rp2.130 dan tertinggi Rp2.210. (bdm)

Komentar

Iklan