1 dari 4 Orang Produktif RI Kegemukan
Jakarta, ID – Ternyata, data Survei Kesehatan Indonesia 2023 bisa disimpulkan bahwa hampir 1 dari 4 orang dewasa di usia produktif di Indonesia punya berat badan berlebihan, atau obesitas.
Hal itu disimpulkan dari hasil survei bahwa prevalensi berat badan di Indonesia lebih mencapai 14,4% dan obesitas menyentuh 23,4%. Hal yang memprihatinkan tentu karena mereka berada di puncak produktivitas.
Obesitas pun kini bukan lagi sekadar isu penampilan, melainkan juga menjadi ancaman kesehatan serius yang makin banyak menyerang kelompok usia produktif, termasuk di Indonesia.
Menurut Dr dr Luciana B Sutanto, MS, SpGK, SubspPK, dokter Spesialis Gizi Klinik dengan keahlian khusus dalam nutrisi untuk pasien kritis di Primaya Hospital Kelapa Gading, tren meningkatnya obesitas pada usia produktif erat kaitannya dengan gaya hidup modern.
Alasan utamanya, pada usia produktif, seseorang sudah memiliki penghasilan dan akses makanan yang lebih luas, tetapi aktivitas fisik justru menurun.
“Pola kerja yang banyak duduk, minim olahraga, dan asupan kalori berlebih membuat obesitas sangat mudah terjadi,” jelas dr Luciana, dikutip InfoDigital.co.id, Jumat (27/2/2026).
Dia juga mengingatkan bahwa obesitas tidak bisa dinilai hanya dari berat badan, atau bentuk tubuh. Komposisi tubuh dan distribusi lemak, terutama lemak di perut, menjadi faktor penting dalam menilai risiko kesehatan.
“Seseorang bisa terlihat tidak terlalu gemuk, tetapi memiliki massa lemak tinggi dan lingkar pinggang berlebih. Kondisi ini tetap berisiko secara metabolik,” ujarnya.
Sementara itu, obesitas merupakan pintu masuk berbagai risiko metabolik, yaitu kumpulan kondisi seperti tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, kolesterol abnormal, dan lemak perut berlebih.
Semua kombinasi faktor tersebut pun secara signifikan meningkatkan risiko diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan stroke.
“Obesitas juga dapat menurunkan energi, sehingga menyebabkan mudah lelah, sulit fokus, nyeri sendi, hingga gangguan psikologis. Dalam jangka panjang, kualitas hidup menurun dan risiko penyakit kronis fatal meningkat,” kata dr Luciana.
Pola Makan dan Hidup
Pola makan tinggi kalori, konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, ditambah kurangnya aktivitas fisik dan gaya hidup sedentari menjadi faktor penyebab utama.
Stres kerja, kurang tidur, serta jam makan yang tidak teratur juga turut memperburuk metabolisme tubuh.
Sayangnya, banyak orang baru menyadari masalah metabolik ketika keluhan sudah muncul. Padahal, skrining kesehatan idealnya dilakukan secara berkala sejak usia muda.
“Skrining metabolik sebaiknya dimulai sejak usia muda sekitar 20-an dan dilakukan lebih rutin seiring bertambahnya usia, terutama di atas 40 tahun. Tujuannya untuk mendeteksi risiko sejak dini, bahkan sebelum muncul gejala,” jelasnya.
Pengelolaan Obesitas
Pendekatan pengelolaan obesitas juga tidak bisa diseragamkan. Sedangkan pendekatan nutrisi medis berbasis gizi seimbang dan kondisi metabolik individu menjadi kunci keberhasilan jangka panjang.
“Penurunan berat badan yang aman dan berkelanjutan memerlukan pendampingan dokter spesialis gizi klinik. Diet instan justru berisiko menimbulkan kurang gizi dan memperburuk metabolisme,” tegas dr Luciana.
Sebagai langkah awal, usia produktif disarankan untuk menjaga berat badan ideal, memahami kebutuhan gizi harian, dan membangun gaya hidup sehat secara konsisten sejak dini.
“Perubahan kecil yang dilakukan lebih awal dan berkelanjutan jauh lebih efektif dibandingkan upaya instan yang bersifat musiman. Tujuan utamanya bukan hanya menurunkan berat badan, tetapi melindungi kesehatan metabolik jangka panjang,” pungkas dia. (bdm)




