Ini Penjelasan Investasi GoTo Bikin Laba Telkom Turun
Ilustrasi Gedung dan Bisnis Telkom. (Dok Telkom)--
Jakarta, ID – Boncos investasi di GoTo telah berakibat laba bersih PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, emiten telko digital terbesar di Tanah Air berkode saham TLKM,tergerus (1,92%) walau sebenarnya masih mencatat laba bersih super jumbo mencapai Rp19,46 triliun pada 2026 hingga 30 September.
Laporan keuangan mencatat, laba bersih Telkom turun sekitar Rp380 miliar (1,92%) menjadi Rp19,46 triliun pada sembilan bulan tahun 2026 hingga kuartal III dibandingkan setahun sebelumnya (year on year/YoY) masih Rp19,84 triliun. Salah satu penyebabnya, akibat investasi anak usahanya, Telkomsel, di GoTo.
Direktur Utama Nanang Hendarno mengungkapkan, laporan keuangan konsolidasian Telkom dan entitas anak usaha tahun 2026 hingga 30 September disajikan sesuai Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia.
“Seluruh informasi dalam laporan keuangan konsolidasian perusahaan dan entitas anak usaha pun telah diungkapkan secara lengkap dan benar,” ujar Nanang, dalam pengantar laporan keuangan, dikutip InfoDigital, Senin (2/11/2026).
Kembali ke penjelasan terkait PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), Telkomsel saat ini memegang sekitar 23,72 miliar lembar saham GOTO, atau setara dengan 1,99% dari total saham yang beredar.
Dulu, saham GOTO dibeli oleh Telkomsel pada kisaran harga Rp270 per lembar dengan nilai investasi awal sekitar Rp6,40 triliun.
Nah, berikut penjelasan kenapa akhirnya investasi Telkom menjadi beban yang pada akhirnya berkontribusi menggerus keuntungan pada laporan keuangan tahun 2026 hingga 30 September.
BACA JUGA:Boncos Investasi di GoTo, Laba Bersih Telkom Tergerus 1,92%
Jadi, total pendapatan Telkom sebenarnya masih tumbuh Rp3,88 triliun (3,54%) menjadi Rp113,5 triliun pada sembilan bulan 2026 hingga 30 September dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp109,62 triliun.
Hanya saja, beban biaya yang meningkat, antara lain adanya kerugian yang belum direalisasi dan tak adanya penghasilan lain-lain, serta beban pajak penghasilan (PPh) akhirnya mengakibatkan laba bersihnya turun.
Jika melihat pos beban biaya, beban biaya operasi, pemeliharaan, dan jasa telekomunikasi Telkom terlihat naik Rp1,8 triliun (5,95%) malah menjadi Rp32,08 triliun.
Lalu, Telkom juga mesti menanggung kerugian yang belum direalisasi dari perubahan nilai wajar atas investasi senilai Rp1,66 triliun sepanjang tahun 2026 ini dibandingkan tahun lalu hanya Rp360 miliar.
Kerugian yang belum direalisasi dari perubahan nilai wajar atas investasi senilai Rp1,66 triliun tersebut sebagian besar merupakan akumulasi dari dampak investasi di GoTo senilai Rp759 miliar dan MDI investasi di startup Rp794 miliar.