Infodigital.co.id

Tim Labmino UI Kembangkan Kacamata RunSight

Kacamata pintar prototupe RunSight buatan tim Labmino dari UI. (Dok Samsung)

Jakarta, ID – Tim Labmino dari Universitas Indonesia (UI) membuka cerita di balik RunSight, sebuah pengembangan prototipe kacamata pintar berbasis AI yang dirancang sebagai virtual running guide bagi penyandang disabilitas visual.

Tim Labmino telah diumumkan sebagai Samsung Solve for Tomorrow (SFT) Global Ambassador. Di balik pencapaian global tersebut, terdapat proses riset mendalam dan empati yang menjadi fondasi lahirnya inovasi ini.

Melalui program SFT, Tim Labmino pun mendapatkan ruang untuk mengembangkan ide secara terstruktur, mulai dari validasi masalah, perancangan prototipe, hingga uji dampak di lapangan.

Bagi tim asal Universitas Indonesia tersebut, SFT bukan sekadar kompetisi, melainkan ekosistem pembelajaran yang menjembatani riset kampus dengan solusi nyata yang aplikatif dan inklusif.

Head of Corporate Marketing Samsung Electronics Indonesia Bagus Erlangga mengatakan, Samsung Solve for Tomorrow bukan hanya tentang kompetisi inovasi, tetapi tentang membangun pola pikir problem-solver di kalangan generasi muda.

“Tim Labmino menunjukkan bahwa ketika empati dipadukan dengan kapabilitas teknologi seperti AI, lahirlah solusi yang inklusif dan relevan bagi Masyarakat,” ujar Bagus, dikutip InfoDigital.co.id, Kamis (5/3/2026).

Menurut dia, inovasi seperti yang dilakukan Tim Labmino ingin terus Samsung dorong. Teknologi yang tidak hanya canggih, tetapi juga bertanggung jawab dan berdampak positif.

Karena itu,  pengembangan kacamata RunSight berangkat dari pendekatan berbasis empati. Pada tahap awal, Tim Labmino mengeksplorasi solusi navigasi umum untuk membantu mobilitas penyandang disabilitas visual.

Namun, melalui observasi dan wawancara langsung, mereka menemukan kebutuhan yang jauh lebih spesifik, yakni tantangan keselamatan dan kemandirian saat berlari di lintasan.

Konsep Kacamata

Berbeda dengan berjalan atau navigasi kota, lari memiliki karakteristik unik, kecepatan lebih tinggi, risiko tabrakan lebih besar, dan kebutuhan arahan yang cepat serta mudah dipahami.

Banyak solusi yang tersedia berfokus pada mobilitas harian, namun belum dirancang untuk aktivitas olahraga dengan ritme cepat dan kebutuhan lane awareness.

“Awalnya kami mengembangkan konsep navigasi umum. Namun, kami menyadari bahwa berlari memiliki tantangan yang sangat berbeda, lebih cepat, lebih dinamis, dan membutuhkan respons instan,” ujar Anthony Edbert Feriyanto dari Tim Labmino.

Dari situlah pivot terbesar tim terjadi. Tim Labmino akhirnya memutuskan fokus pada track running dan merancang wearable yang ringan, berbasis kamera RGB, agar nyaman digunakan dan tetap terjangkau.

Di sisi software, tim juga bertransformasi dari satu model AI menjadi pipeline multimodel agar arahan yang diberikan jauh lebih presisi dan adaptif.

“Bagi kami, inovasi bukan hanya soal teknologi yang canggih, tapi tentang bagaimana teknologi benar-benar memahami kebutuhan penggunanya,” ungkap Anthony.

Secara teknis, kacamata RunSight mampu mengenali objek di sekitar pengguna, membaca lintasan lari, serta menyesuaikan arahan berdasarkan kecepatan pengguna.

Lalu, informasi tersebut disampaikan melalui instruksi suara secara real-time guna membantu pengguna mengatur arah dan kecepatan saat berlari.

Secara teknis, RunSight sebagai ‘virtual guide runner’ yang mampu menangkap video, lalu AI di perangkat memprosesnya secara real-time untuk mendeteksi garis lintasan dan hambatan di depan pengguna. (bdm)

Komentar

Iklan