Iduladha Momentum Berkurban untuk Kesadaran Siber
Budaya Digital Lemah
Dia menjelaskan dan menilai bahwa budaya digital bangsa Indonesia masih sangat lemah dalam hal kesadaran dan mau berinisiatif untuk berkurban yang telah diuraikan di atas.
Banyak masyarakat yang masih tergiur dengan tawaran hadiah palsu, tautan mencurigakan, atau aplikasi yang meminta izin akses berlebihan.
Pola tersebut mirip dengan hewan yang digiring ke tempat pemotongan tanpa sadar akan apa yang terjadi.
“Bedanya, dalam Iduladha hewan kurban dipilih secara sadar oleh yang berkurban,” tuturnya.
Dalam dunia digital, rakyat Indonesia seringkali menjadi pihak yang tidak pernah diajak berunding ketika data mereka diperdagangkan, atau identitasnya dipalsukan.
Kasadaran Siber dan Regulasi
Karena itu, kesadaran siber pun harus dibangun dari hulu. Pemerintah, melalui Kemkomdigi dan BSSN, perlu terus menggencarkan literasi keamanan siber yang membumi, bukan sekadar seminar dan buku saku yang tidak pernah dibaca.
Masyarakat perlu diedukasi dengan bahasa yang sederhana dan relevan, termasuk melalui momen-momen budaya seperti Iduladha.
Analogi kurban bisa menjadi pintu masuk yang efektif untuk menjelaskan bahwa setiap pengorbanan kecil dalam menjaga keamanan digital adalah ibadah dalam konteks melindungi diri dan keluarga dari kejahatan siber.
Di sisi lain, negara juga harus menunjukkan pengorbanan yang nyata. Pembentukan Badan Pelindungan Data Pribadi yang diamanatkan UU PDP harus segera direalisasikan. Peraturan pemerintah sebagai turunan UU PDP pun harus segera diterbitkan.
RUU Keamanan dan Ketahanan Siber yang sudah masuk Prolegnas harus dipercepat pembahasannya. Tanpa pengorbanan struktural berbasis regulasi dan anggaran dari negara, masyarakat hanya akan terus menjadi korban, bukan pihak yang berkurban secara sadar.
Iduladha pun mengajarkan bahwa pengorbanan yang paling bernilai adalah yang dilakukan dengan kesadaran penuh dan keikhlasan hati.
Di era digital, pengorbanan itu bisa dimulai dari hal sederhana, yakni memikirkan ulang sebelum mengklik tautan, meluangkan waktu untuk memverifikasi informasi, dan menyadari bahwa data pribadi adalah amanah yang harus dijaga.
“Mari kita jadikan Iduladha sebagai momentum untuk berubah dari sekadar korban menjadi pihak yang berkurban secara sadar demi keamanan siber Indonesia yang lebih baik,” pungkas Pratama. (lmm)




