Awas, Waspadai Risiko Siber di Perangkat Pelacak Kebugaran
Jakarta, ID – Kaspersky, perusahaan konsultan dan penyedia solusi keamanan siber global asal Rusia, mengingatkan bahwa perangkat pintar pelacak kebugaran bisa menjadi pintu masuk serangan dan kejahatan siber.
Perangkat kebugaran yang dimaksud antara lain jam tangan pintar (smartwatch), gelang, atau cincin pintar yang dapat melacak langkah, tidur, dan data biometrik seperti oksigen darah atau detak jantung pengguna.
Upaya pengguna untuk lebih sehat dan bugar dengan perangkat pintar tersebut pun tanpa sadar telah mengekspos data pribadi yang yang dapat menyebabkan serangan phishing tertarget, atau bahkan, pembobolan premi asuransi kesehatan yang lebih tinggi.
Pakar Analisis Konten Web dan Privasi di Kaspersky Anna Larkina mengatakan, dengan adanya tren tersebut, para pengguna pelacak kebugaran perlu memprioritaskan keamanan data daripada penghematan.
Dia pun menyarankan penggunaan merek perangkat pelacak kebugaran mapan dan dengan rekam jejak privasi yang terbukti untuk menghindari kemungkinan menjadi sasaran penyerang siber.
“Tetapi, bahkan, pada perangkat ini, seseorang harus meninjau kebijakan privasi dengan cermat, hingga membatasi visibilitas catatan pelatihan,” komentar Anna Larkina, dikutip InfoDigital.co.id, Jumat (13/2/2026).
Seperti kita ketahui, saat ini, tren masyarakat modern, termasuk di Indonesia sudah menggunakan perangkat pintar tersebut untuk mengukur serta memantau kesehatan dan kebugaran tubuhnya.
Para pengguna pun dapat memasukkan informasi kesehatan lainnya ke dalam alat pelacak tersebut, seperti berat badan, golongan darah, jumlah cairan yang mereka minum per hari, dan lainnya.
Kemudian, mereka dapat melacak latihan di luar ruangan dan mem-posting detail aktivitas kebugarannya dengan data GPS untuk berbagi dengan teman atau keluarga.
Namun, publikasi data GPS dan kesehatan, baik di dalam aplikasi kebugaran pendamping perangkat atau di jejaring sosial biasa, makin memberikan kesempatan kepada penyerang siber untuk dapat melacak pengguna secara fisik, atau menggunakannya dalam penipuan rekayasa sosial.
Misalnya, saat pengguna sedang lari pagi seperti biasa, penyerang siber/penjahat dapat mengirim pesan ke daftar kontak dari akun palsu yang mengklaim bahwa baterai ponsel cerdas habis dan membutuhkan bantuan keuangan karena ‘cedera’.
Karena itu, pengguna perangkat pintar tersebut harus waspada dan sebaiknya hanya membagikan rute kepada orang-orang yang dipercayai, dan bukan membagikannya untuk masyarakat umum.




