Dari sisi investasi, investasi pusat data di Indonesia juga disebut menawarkan profil imbal hasil yang menarik.
Laporan tersebut mencatat, cap rate Indonesia berada sedikit di atas 7%. Sementara itu, unlevered yield-on-cost berada pada kisaran 10%–12%. Angka tersebut relatif lebih tinggi dibandingkan beberapa pasar Asia-Pasifik lainnya, termasuk Malaysia, Jepang, Hong Kong, dan Tiongkok daratan.
Dengan kombinasi permintaan yang terus meningkat dan profil imbal hasil yang kompetitif, Indonesia pun diproyeksikan membutuhkan investasi US$17,9 miliar hingga 2030, menjadikannya salah satu pasar pusat data dengan prospek pertumbuhan paling menarik di Asia-Pasifik.
Secara regional, Asia-Pasifik diperkirakan membutuhkan sekitar 22,7 GW kapasitas data center baru untuk memenuhi kebutuhan kapasitas hingga 2030.
Sementara itu, kebutuhan capex-nya mencapai sekitar US$280 miliar. Pertumbuhan AI dan digitalisasi diperkirakan menjadi salah satu pendorong utama permintaan pusat data di kawasan Asia-Pasifik. (bdm)