Jakarta, ID – Kaspersky, perusahaan konsultan dan penyedia solusi keamanan siber asal Rusia, menyebut kawasan Asia-Pasifik, termasuk Indonesia, kekurangan talenta analitik hingga pemrograman di tengah adanya lebih dari 100 ribu serangan siber per hari.
Talenta siber di kawasan Asia-Pasifik, termasuk di Indonesia, disebut terus berkembang. Namun, kesenjangan keterampilan yang signifikan masih menjadi penghambat untuk mengatasi serangan siber yang datang.
Khususnya untuk di Indonesia saja tahun 2025, Kaspersky mendeteksi adanya hampir 40 juta upaya ancaman terhadap perangkat pintar (on device threats) di dalam negeri.
Selama periode Januari - Desember 2025, Kaspersky mendeteksi 39.718.903 insiden serangan siber lokal pada komputer partisipan Kaspersky di Indonesia.
Jumlah tersebut setara dengan lebih dari 108.000 insiden serangan siber per hari yang berasal dari perangkat yang dapat dilepas (removable device), antara lain USB.
BACA JUGA:Indosat dan Cisco Siapkan Talenta Siber RI
Managing Director untuk Asia-Pasifik di Kaspersky Adrian Hia mengatakan, kawasan Asia-Pasifik membutuhkan para profesional yang mampu memadukan kedalaman teknis dengan kemampuan analitis dan pemecahan masalah yang kuat.
“Hal ini memerlukan panduan yang terstruktur dan praktis, bukan sekadar pengalaman kerja di lapangan,” ujar Adrian Hia, dikutip InfoDigital, Rabu (4/11/2026).
Kekurangan Talenta Siber
Data dari Kaspersky mengungkapkan, meskipun investasi dalam talenta keamanan siber terus meningkat, kekurangan yang krusial dalam kompetensi teknis dan analitis inti masih tetap ada.
Kaspersky menunjukkan, kekurangan keterampilan teknis (hard skills) terbesar di Asia-Pasifik terjadi pada bidang pemrograman sistem (62%), pengetahuan kerangka kerja/framework (61%), dan teknologi jaringan (46%).
Sementara itu, kesenjangan dalam keterampilan nonteknis (soft skills), terutama mencakup kemampuan berpikir analitis (48%), pemecahan masalah (43%), dan kerja sama tim (41%).
Pada saat yang sama, 25 persen responden di Asia-Pasifik menyatakan bahwa pendidikan formal mereka hanya sedikit atau bahkan tidak sama sekali berguna dalam pekerjaan sehari-hari sebagai profesional keamanan siber/keamanan informasi.
Selain itu, hampir separuh profesional keamanan siber di kawasan ini (48%) mengakui pernah melakukan kesalahan di awal karier mereka akibat kurangnya pengetahuan.
Kesalahan yang paling sering terjadi meliputi pengabaian pencadangan data (43%), penggunaan langkah-langkah keamanan yang sudah usang (43%), serta kegagalan dalam menerapkan perlindungan identitas (36%).