Jakarta, ID – PT Dayamitra Telekomunikasi/Mitratel Tbk, emiten penyedia infrastruktur telko terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara dan anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk berkode saham MTEL, membukukan laba bersih Rp1,55 triliun pada 2026 hingga September.
Laba bersih hingga kuartal III-2026 tersebut meningkat 0,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/YoY). Sementara itu, EBITDA mencapai Rp5,81 triliun dengan margin EBITDA 82,9%.
Pencapaian laba dan EBITDA itu diperoleh dari total pendapatan bersih Rp7,01 triliun tahun 2026 hingga September, tumbuh 1,8%, dan setelah dikurangi beban biaya dan pajak.
Walau pendapatan dan laba hanya tumbuh tipis, manajemen menyebut, kinerja yang positif mencerminkan kemampuan perseroan dalam menjaga profitabilitas dan fundamental bisnis di tengah dinamika industri telko.
Sejalan dengan itu, Mitratel juga terus memperkuat transformasi menuju Next-Generation TowerCo melalui optimalisasi aset, pengembangan kapabilitas digital, dan perluasan portofolio infrastruktur telekomunikasi.
Direktur Utama Mitratel, Theodorus Ardi Hartoko, menyampaikan, kinerja perseroan tahun 2026 hingga kuartal III didukung pengelolaan operasional yang disiplin, optimalisasi pemanfaatan aset, serta penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan keuangan.
“Di tengah dinamika industri telekomunikasi, fokus kami tidak hanya pada pertumbuhan, tetapi juga pada kualitas pertumbuhan dan profitabilitas,” ujar Ardi, dikutip InfoDigital, Senin (2/11/2026).
BACA JUGA:Mitratel Bagi Dividen Rp25 Per saham 31 Juli
Menurut dia, Mitratel terus memperkuat produktivitas aset, menjaga disiplin alokasi belanja modal (capital expenditure/capex), serta memastikan setiap investasi memberikan kontribusi optimal terhadap kinerja dan penciptaan nilai.
Rasio Sewa Menara Meningkat
Sementara itu, hingga September 2026, Mitratel mengoperasikan sebanyak 40.704 menara telekomunikasi dengan 24.333 kolokasi dan total 65.037 penyewa (tenant).
Rasio penyewaan pun meningkat menjadi 1,60 kali pada September 2026 dibandingkan 1,55 kali pada periode September 2025.
Hal tersebut mencerminkan peningkatan pemanfaatan infrastruktur menara melalui penambahan kolokasi, khususnya di wilayah luar pulau Jawa seiring dengan pemerataan konektivitas di wilayah Indonesia.
Pada segmen fiber optik, panjang billable fiber juga telah mencapai 76.761 km, tumbuh 13,3% YoY.
Perkembangan itu makin memperkuat peran jaringan fiber optik sebagai infrastruktur pendukung konektivitas yang melengkapi menara bisnis sekaligus memperluas peluang dalam memenuhi kebutuhan kapasitas jaringan dan pengembangan layanan telekomunikasi.