16 Miliar Password Bocor, VIDA Ajak Beralih ke Tanpa Password

Sabtu 28-06-2025,10:11 WIB
Reporter : redaksi
Editor : redaksi

<strong>Jakarta, ID - </strong>Baru-baru ini, publik dikejutkan oleh laporan <em>Cybernews</em> yang menyebutkan terjadi kebocoran 16 miliar<em> <a href="https://infodigital.co.id/14-juta-serangan-bruteforce-ancam-bisnis-ri/"><strong>password</strong></a></em> dalam setengah tahun 2025 hingga 20 Juni. Vida, penyedia solusi pencegahan penipuan identitas digital, pun mengajak Indonesia beralih ke autentifikasi tanpa <a href="https://infodigital.co.id/awas-kata-sandi-yang-dibuat-ai-sangat-berisiko/"><strong><em>password</em></strong></a>. Baru-baru ini, publik dikejutkan oleh laporan <em>Cybernews</em> yang menyebutkan telah terjadi kebocoran 16 miliar<em> password.</em> Angka ini melampaui rekor <em>Compilation of Many Breaches</em> (COMB) 10 miliar kredensial pada Juli 2024. Meski tidak berasal dari insiden kebocoran baru, penyedia solusi identitas digital VIDA menilai bahwa fenomena tersebut tetap menjadi pengingat pentingnya perlindungan data pribadi di era serba digital. <em>Founder</em> dan Group CEO VIDA Niki Luhur berpendapat, kredensial adalah lapisan pertama yang harus dilindungi. Sayangnya, banyak pengguna belum menyadari bahwa kebocoran sekecil apa pun dapat membuka celah bagi serangan siber yang merugikan secara finansial maupun emosional. “Menanggapi hal ini, VIDA senantiasa berkomitmen mendampingi pelaku usaha dan masyarakat dalam memberi perlindungan identitas digital,” ujar Niki, dikutip <a href="https://infodigital.co.id/"><strong><em>InfoDigital.co.id</em></strong></a>, Sabtu (28/6/2025). Menurut dia, penggunaan <em>password</em> secara kurang bijak turut berkontribusi pada meningkatnya intensitas serangan penipuan digital, seperti <em>phishing</em> dan <em>social engineering</em>. <strong>Kelemahan <em>Password</em></strong> Data dari VIDA mengungkap fakta yang mengkhawatirkan. Sebanyak 64% orang masih mendaur ulang <em>password</em>, serta 80% kebocoran data berawal dari <em>password</em> yang lemah, digunakan ulang, atau dicuri. Pada 2024, kata kunci 123456 dan password masih menduduki peringkat teratas sebagai <em>password</em> yang paling banyak digunakan masyarakat Indonesia. Padahal, lebih dari itu, <em>password</em> dengan delapan karakter kini dapat dipatahkan dalam waktu kurang dari satu detik. Dampak dari lemahnya perlindungan kredensial pun tercermin jelas dalam maraknya kasus penipuan digital yang terus meningkat. Dalam kurun waktu November 2024 hingga Mei 2025, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Indonesia Anti-Scam Center (IASC) telah menerima 135.397 laporan kasus penipuan digital di sektor keuangan dengan total kerugian mencapai Rp2,6 triliun. <strong><em>Password </em></strong><strong>Terbaik</strong> Melihat data tersebut, VIDA mendorong masyarakat untuk lebih waspada dalam menjaga keamanan digital, dimulai dari pemilihan dan pengelolaan <em>password</em> yang tepat. Gunakan kombinasi huruf besar, huruf kecil, angka, dan simbol dengan panjang minimal 24 karakter, ubah setiap 90 hari, dan hindari penggunaan <em>password</em> yang sama di berbagai akun. Lapisan perlindungan tambahan juga dapat diperkuat dengan mengaktifkan autentikasi dua faktor (2FA) pada aplikasi dan perangkat. Sebagai bagian dari komitmennya dalam membangun ekosistem digital yang lebih aman, VIDA tidak hanya fokus pada peningkatan <em>awareness </em>konsumen terhadap keamanan digital. <strong>Tinggalkan <em>Password</em></strong> VIDA juga mengedepankan pendekatan menyeluruh yang mencakup penyediaan solusi teknologi bagi pelaku industri sebagai pengganti <em>password</em>. 1. <strong>VIDA FaceToken</strong> Salah satunya melalui pemanfaatan VIDA FaceToken, teknologi berbasis biometrik yang menggabungkan <em>face matching, liveness detection</em>, dan <em>device authentication </em>dalam satu proses yang aman dan <em>seamless</em>. Teknologi tersebut memastikan hanya pengguna asli yang dapat mengakses akun atau melakukan transaksi, serta memberikan perlindungan. Berbeda dengan <em>password</em> yang rentan terhadap <em>phishing</em>, FaceToken tidak memerlukan kode atau informasi yang mudah disadap, sehingga lebih tahan terhadap manipulasi seperti <em>social engineering</em>. Keamanan dari inovasi FaceToken telah teruji dan mendapat sertifikasi iBeta Level 2 untuk teknologi <em>liveness detection</em>, menjadikan VIDA sebagai penyedia identitas digital pertama di Indonesia yang meraih pengakuan ini. Pencapaian tersebut menegaskan komitmen VIDA dalam menghadirkan solusi keamanan digital berstandar global untuk menjawab tantangan dunia siber yang terus berkembang. 2. <strong>VIDA PhoneToken</strong> Tak berhenti di sana, VIDA juga menghadirkan VIDA PhoneToken, teknologi autentikasi berbasis perangkat yang memanfaatkan <em>public key infrastructure</em> (PKI) untuk menjamin keaslian transaksi digital. Setiap perangkat dikaitkan langsung dengan identitas pengguna, memastikan hanya perangkat terdaftar yang dapat digunakan untuk <em>login</em> atau transaksi. Dengan metode tersebut, proses autentikasi tidak lagi bergantung pada OTP berbasis SMS yang rawan disadap melalui <em>fake</em> BTS atau SIM <em>swap fraud</em>. Kombinasi VIDA PhoneToken dan FaceToken pun akan menghadirkan perlindungan berlapis. Jika perangkat dicuri, seluruh akses tetap membutuhkan verifikasi biometrik pemilik, sehingga data dan transaksi tetap aman. (dmm)

Tags :
Kategori :

Terkait