Kuartal I, Telkom Realisasi Capex Rp4,9 Triliun
Jakarta, ID – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, emiten telko dan digital terbesar di Tanah Air berkode TLKM, telah merealisasikan belanja modal (capital expenditure/capex) Rp4,9 triliun pada kuartal I-2026.
Realisasi belanja modal Rp4,9 triliun kuartal I-2026 tersebut pun telah mencapai 13,2% dari total pendapatan yang diraih oleh Telkom.
“Sebanyak 99% dialokasikan untuk pengembangan infrastruktur di segmen inti B2C, B2B Infrastructure, dan International. Sisanya untuk pengembangan platform digital secara disiplin,” ujar ujar Direktur Utama Telkom Dian Siswarini, dikutip InfoDigital.co.id, Sabtu (30/5/2026).
Menurut Dian, Telkom akan terus mempercepat eksekusi strategi transformasi TLKM 30 dengan tetap mengutamakan prinsip disiplin operasi untuk memperkuat keberlanjutan bisnis, menghadirkan layanan yang semakin inklusif, serta membangun ekosistem digital yang mampu menciptakan dampak lebih luas.
“Tahun 2026 menjadi periode yang penuh peluang sekaligus tantangan bagi TelkomGroup,” tutur Dian.
Sementara itu, pencapaian positif segmen B2C dan B2B Infrastructure Telkom pada periode kuartal I-2026 tidak lepas dari keberhasilan transformasi dan percepatan eksekusi strategi TLKM 30 yang dibayai dari capex.
Penataan Bisnis
Di sisi lain, efisiensi operasional Telkom terus diciptakan, melalui inisiatif streamlining dan penataan portofolio bisnis berbasis HoldCo-OpCo, termasuk divestasi, merger, maupun likuidasi entitas non-core.
Salah satu progress streamlining yang berjalan adalah divestasi AdMedika Group kepada investor strategis dengan proses divestasi yang ditargetkan selesai pada akhir semester pertama 2026.
Divestasi tersebut diharapkan dapat membuka peluang pertumbuhan dan inovasi bagi AdMedika Group serta menghadirkan kualitas layanan yang semakin baik untuk masyarakat Indonesia maupun kawasan Regional.
Di sisi unlock value, Telkom juga berada dalam fase persiapan pemisahan bisnis dan aset wholesale fiber connectivity tahap kedua kepada InfraNexia yang ditargetkan rampung pada kuartal ketiga tahun ini.
Proses tersebut turut mempertimbangkan evaluasi terhadap prioritas inisiatif guna memastikan implementasi yang lebih optimal.
Secara keseluruhan, proses pemisahan berjalan sesuai rencana dan menjadi bagian dari strategi Telkom dalam mendorong pengelolaan aset fiber yang lebih tangkas dan efisien serta membuka peluang bisnis lebih luas ke depan.
Dengan penguatan di segmen B2B, khususnya InfraNexia yang diproyeksikan sebagai motor pertumbuhan baru, TelkomGroup dapat membuka peluang peningkatan pendapatan eksternal sekaligus memperkuat fundamental bisnis perusahaan.
Saat ini, kontribusi bisnis fiber masih berada di kisaran 15% dan ditargetkan meningkat menjadi sekitar 25% seiring optimalisasi utilisasi infrastruktur, penyelesaian transfer aset, dan operasional yang berjalan penuh.
Telkom juga memperkuat bisnis B2B ICT dan International guna menangkap potensi kebutuhan industri yang terus berkembang di tengah pesatnya adopsi teknologi berbasis AI.
Ke depan, langkah tersebut diharapkan dapat menciptakan komposisi pendapatan segmen B2C dan B2B TelkomGroup yang lebih seimbang. (bdm)




