Infodigital.co.id

60% Pengguna Starlink RI di Perdesaan

Layanan residensial Starlink. (Dok Starlink)

Permintaan Starlink Tinggi

Walaupun biaya langganan dan pasang/perangkat kerasnya paling mahal, permintaan layanan terhadap Starlink di Indonesia saat ini tetap tinggi. Bahkan, Starlink sempat menghentikan sambungan/pendaftaran baru.

Ketika Starlink sempat menghentikan sementara pendaftaran pelanggan baru karena tingginya permintaan, layanan fixed broadband mendominasi pasar perdesaan dengan pangsa lebih dari 70%.

Sebaliknya, 23% pengguna OpenSignal di daerah perdesaan yang terhubung internet melalui Starlink hampir 4 kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang menggunakan FWA.

Di seluruh wilayah Tanah Air, kehadiran Starlink paling kuat di daerah di perdesaan pulau Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Sementara itu, layanan FWA mendominasi di pulau Jawa.

Pola tersebut menggarisbawahi peran Starlink sebagai pengisi kesenjangan konektivitas dan digital di perdesaan, serta menargetkan area-area di mana jangkauan kabel fiber dan FWA/seluler terbatas.

Sementara itu, pemain FWA dan kabel bergerak lebih fokus pada pasar perkotaan yang kompetitif. Mereka pun berani bersaing dengan penyedia telepon tidak bergerak/seluler (mobile/cellular broadband) dalam hal harga dan menawarkan kualitas layanan yang cukup baik.

Rendahnya kehadiran FWA di daerah perdesaan di Indonesia bisa jadi karena terkait dengan tingginya biaya investasi jaringan (backhaul) dan rendahnya tingkat pengembalian investasi seluler yang diantisipasi oleh operator.

Akibatnya, kabupaten-kabupaten di Kalimantan, Maluku, dan Papua mencatat proporsi waktu yang lebih tinggi tanpa sinyal seluler, dengan beberapa daerah melebihi 5% waktu tanpa konektivitas.

Sebaliknya, sebagian besar kabupaten di wilayah Indonesia bagian barat mengalami tingkat ketidaktersediaan sinyal seluler yang relatif rendah karena wilayah yang ‘lebih kota’. (dmm)

Halaman: 1 2
Komentar

Iklan